Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Menghukum Anak !

 

Anak sering kali melakukan hal yang membuat kita merasa jengkel dan marah. Apakah ini karena tindakannya yang salah, ataukah orang tua yang kurang memahami anak ?

Ketika anak berusaha dengan gigih menaiki tangga, dia tidak putus asa meskipun terlihat sulit baginya. Sesekali terpeleset dia pun tidak menyerah dan terus mencoba. Ketika dia terjatuh, sebenarnya dia merasa sakit sedikit lalu menangis sebentar kemudian ingin mencoba lagi.

Tetapi dalam pandangan kebanyakan orang tua, pasti akan melarang naik tangga lagi karena kuatir akan jatuh. Anak diminta diam duduk agar kita bisa melakukan pekerjaan lain. Fitrah anak yang ingin tahu dan tidak mudah menyerah malah membuat orang tua marah. Melontarkan kata-kata yang mengkerdilkan anak. Tanpa kita sadari kita membunuh fitrah anak yang sangat penting yaitu pantang menyerah menghadapi tantangan.

Bagaimana jika dia tumbuh dewasa nanti menjadi pribadi yang penakut, tidak percaya diri, tidak berani berbicara di depan umum, takut mengemukanan pendapat, ragu dalam mengambil keputusan.

Apakah anak yang mempertahankan pendiriannya dan tidak menuruti perintah kita, harus dihukum?

Bukankan seorang pemimpin harus memiliki sikap yang teguh pada pendiriannya.

Bukankan seorang yang sukses punya sifat pantang menyerah.

Jangan sampai kita menghukum anak hanya karena ingin melampiaskan amarah dan kejengkelan kita. Berikut ini 6 hal yang perlu diperhatikan sebelum menghukum anak :

1.Menghukum anak bukan karena luapan emosi

Berpikirlah sejenak apakah keadaannya memang dari sisi anak yang salah atau justru kita yang sedang penat dan lelah karena urusan kita sendiri. Jangan ketika kita pulang kerja capek, anak menumpahkan makanan kita langsung marah dan menghukumnya.

 

2.Tujuan menghukum untuk mendidik

Saat anak melakukan kesalahan sebaiknya orang tua tidak hanya fokus pada apa hukuman yang pantas untuk anak saja. Berilah hukuman yang juga bertujuan melatih mentalnya supaya menyadari kesalahannya.

Ketika anak sudah mengerti mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak, dia sudah menyadari kesalahannya dan akan memperbaiki sikapnya maka hukuman berhenti. jangan sampai ketika anak sudah menyesalinya tapi kita tetap cuek padanya. Itu akan memicu perasaannya bahwa menyesali kesalahan atau tidak sama saja, dan anak akan lebih sering melakukan kesalahan yang sama.

 

3.Semua perbuatan punya konsekuensi

Menyadarkan anak bahwa apa yang dilakukan pasti ada konsekuensinya, tetapi bukan berarti orangtua bisa mengumbar apa kesalahannya. Apalagi sampai mempermalukannya didepan orang lain. Ini akan menjatuhkan harga diri seorang anak. Ketika anak sudah merasa seperti itu maka tidak ada kata tidak mungkin untuk anak akan balik mempermalukan orangtuanya.

 

4.Jangan menyakiti hati anak

Sering kita karena terbawa emosi tanpa sadar mengucapkan kata yang menyakiti hati anak. Hanya karena anak tidak bisa menghafal, anak dicap bodoh. Hanya karena rasa ingin taunya besar, anak dicap nakal. Belum lagi jika dibandingkan-bandingkan dengan saudara ataupun orang lain yang lebih penurut. Hal inilah yang seringkali terjadi tanpa kita sadari pada kehidupan nyata.

Anak sama seperti orang dewasa yang memiliki perasaan. Anak masih kecil bukan berarti tidak butuh rasa hormat dari orang lain apalagi oleh orang tuanya sendiri.

 

5.Berpikir jernih saat ambil tindakan

Jangan beri hukuman pada anak ketika kita marah. Lebih baik tenangkan diri sejenak, karena kemarahan hanya akan membuat segala sesuatu menjadi tidak baik bahkan lebih buruk. Hukuman yang kita berikan jangan sampai melenceng dari tujuannya. Ingat niat kita adalah untuk mendidik bukan melampiaskan emosi

 

6.Kasih sayang mendahului kemarahan

Menghukum anak bukan seperti kita menghukum orang yang berbuat kesalahan. Sekali lagi ingat niat kita. Peluklah anak kita dan berikan senyum terbaik kita ketika anak kita sudah menyadari kesalahannya. Tanpa ada rasa jengkel/ amarah yang tertinggal. Minta maaflah jika membuat anak kita takut, berikan penjelasan kenapa tadi dia harus dihukum.

 

Anak-anak adalah peniru sejati, jadi ketika kita mendidiknya dengan sering mengancam, maka dia akan meminta apapun juga dengan ancaman. Ketika kita bicara dengan nada mengancam, anak akan berpikir bahwa orang tuanya tidak menyayanginya.

Jadi ketika kita akan mengingatkan anak jangan pernah sedikitpun ada nada ancaman.

Karena anak tidak bisa melupakan tindakan orangtuanya yang menyakitkan.

Nah ini pentingnya kita perlu mempererat ikatan dengan anak. Duduk bersama membicarakan aturan-aturan dengan suasana yang akrab. Jelaskan konsekuensi apa yang diterima jika melanggar dan berikan penghargaan jika menaatinya dengan baik.  Seringlah bercengkrama dengan anak saat bersama jangan malah diam tanpa sapa serta sibuk dengan gadget atau hal lainnya sendiri.

Semoga niat kita dalam mendidik anak tetap terjaga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *