Mindful Parenting, Penting Untuk Orang Tua Sibuk!

 

Pada zaman sekarang ini seorang ibu bekerja di ranah publik merupakan hal yang wajar. Seorang ayah yang bekerja jauh dari keluarga dan baru bisa berkumpul dengan keluarganya seminggu sekali bahkan setahun sekali pun bukan hal yang jarang kita temui saat ini.

Quality time dengan keluarga terutama anak adalah kebahagiaan tersendiri yang tidak ternilai harganya. Namun terkadang kenyataannya tidak semudah itu untuk mempunyai quality time dengan anak.

Hal inilah yang dialami oleh seorang ibu yang bekerja bernama Melly Kiong, beliau adalah praktisi Mindful Parenting. Beliau yang juga penulis buku “Siapa bilang ibu bekerja tidak bisa mendidik anak dengan baik“ ini berkata bahwa ibu bekerja tetap bisa mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik. Akan tetapi sekarang ini cukup banyak orang tua yang membalik prioritasnya, “Cari uang nomor satu, mendidik anak nomor dua.”

Para orang tua berlomba-lomba mencari pengasuh sebagus dan semahal mungkin. Padahal Melly mengatakan bahwa itu tidak dapat menggantikan peran orang tua. Sehingga pada akhirnya anak lebih nyaman dan bahkan memiliki perilaku yang sama dengan pengasuh daripada dengan ibu yang telah melahirkannya.

Jadi jangan sampai kita mengurangi hak anak untuk mendapatkan kasih sayang, meskipun waktu kita sebagian besar di kantor. Coba mulai praktek kan metode  Mindful Parenting ini.

 

Apa sih “Mindful Parenting” itu?

 

Konsep Dasar Mengasuh Berkesadaran (Mindful Parenting)

Pendekatan berkesadaran (mindful) dalam mengasuh anak (parenting) adalah salah satu metoda yang disarankan untuk membangun hubunganyang aman/secure antara orangtua dan anak (Siegel dan Hartzell 2003). Praktik hidup berkesadaran melalui mengasuh anak adalah cara ideal sebagai latihan kita untuk sadar setiap saat, setiap hari.

Konsep Mengasuh Berkesadaran yang kami terapkan ini telah diekstraksi dari studi literatur Timur dan literatur Baratmengenai hidup berkesadaran dan dibangun di atas dasar-dasar yang akuntabel tentang praktek sehari-hari hidup berkesadaran yang dapat diterapkan dalam mengasuh anak (Kabat-Zinn dan Kabat-Zinn 1997).

Jadi intinya mindful parenting merupakan konsep parenting yang mengutamakan kesadaran orang tua dalam berkomunikasi, mendidik, dan membersamai anak yang berisi lima dimensi yaitu:

 

(1) Mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan empati,

(2) Pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak,

(3) Kesadaran emosional diri sendiri dan anak,

(4) Pengaturan diri dalam hubungan pengasuhan/parenting

(5) Welas asih untuk diri sendiri dan anak

 

Berikut uraian 5 dimensi itu :

1.Mendengarkan dengan penuh perhatian. Berbicara dengan empati.

Dimensi pertama dari Mindful Parenting ini ialah menyelaraskan pendengaran dan merespon dengan penuh perhatian. Saat memberikan perhatian penuh terhadap anak, orang tua memberikan sinyal bahwa mereka dihargai. Orang tua diharuskan menanggapi anak ketika dia bercerita apapun, tanggapi dengan antusias tanpa sedikitpun rasa cuek dan berikan respon dengan bahasa kalimat yang produktif.

Berbicara dengan empati adalah secara penuh kesadaran tidak menggunakan kata-kata mengancam, intimidasi, kekerasan dan selalu mengungkapan isi pikiran dengan kalimat yang berempati. Berempati berarti memposisikan diri pada kondisi anak saat itu dan ikut merasakan apa yang terjadi pada diri mereka. Dengan begitu, kalimat yang diungkapkan adalah kalimat yang penuh dengan kesadaran serta dapat menggambarkan pikiran dan perasaan mereka.

Berlatih berbicara dengan empati ikut serta memberikan atmosfir penerapan moral dan etika dalam keluarga. Orangtua yang selalu memberikan contoh berbicara dengan empati akan memberikan kesan positif serta menjadi suri tauladan bagi anak. Sangat penting bagi kedua orangtua untuk dapat melatih berbicara dengan empati dalam keseharian.

 

2.Pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak

Orangtua tidak semestinya melakukan penghakiman dini berdasarkan asumsi pikiran bawah sadar terhadap anak. Hal ini dapat berakibat dan berpengaruh buruk pada anak. Stop menghakimi mereka dan juga stop menggunakan persepsi yang mungkin menjadi pengalaman masa lalu orangtua.

Dalam hal ini terciptalah penerimaan gagasan  pergulatan orangtua-anak. Memang awalnya akan ada kesulitan dalam menyamakan persepsi, tetapi ini akan membuat anak merasa dihargai. Orangtua pun akan lebih mudah memberitahu pada anak jika itu salah ketika sang anak diajak berdiskusi.

Saat kita dengan mudahnya menghakimi anak, maka otomatis anak juga akan meniru karena melihat orang tua sebagai role modelnya. Bagitu juga saat kita mudah marah apalagi menggunakan kekerasan, anak pun akan melakukan hal yang sama pada kita bahkan orang lain.

 

3.Kesadaran emosional diri sendiri dan anak

Studi dan riset memperlihatkan bahwa kematangan emosional orangtua akan berpengaruh sangat kuat kepada kematangan emosional anak di masa mendatang.

Kita dapat melihat bagaimana orangtua yang tidak dapat mengontrol emosinya saat berbicara dan bertindak pasti menghasilkan anak-anak yang juga tidak bisa mengontrol emosinya. Maka saat kita akan meledakkan emosi, coba tenangkanlah diri anda dan sadari bahwa anak kita nanti akan menirunya. Jika hal itu terjadi akan semakin menyulitkan kita dalam mendidiknya.

 

4.Pengaturan diri dalam hubungan pengasuhan

Orangtua sebaiknya tidak memperlihatkan guncangan emosi yang berlebihan terhadap perilaku anak. Tanpa kita sadari seringkali merusak anak dengan pujian yang berlebihan, terlalu membanggakan prestasi anak atau di bagian sebaliknya terlalu menghakimi, memandang remeh, menyepelekan anak.

Kedua guncangan emosi ekstrim ini harus dihindari, itulah kenapa disebut mindful parenting, mindful juga berarti selalu tenang terkendali.

 

5.Welas asih untuk diri dan anak

Mengembangkan welas asih didalam keluarga, akan membangun rasa kepedulian anak terhadap sesama, lingkungan dan alam semesta. Dengan menerapkan welas asih dalam mindful parenting, kita secara berkesinambungan mendidik anak-anak yang memiliki rasa kasih sayang dan menjadi aset besar untuk kehidupannya kelak di masa depan.

 

Ringkas pembahasan tentang mindful parenting ini adalah ketika kesibukan, rutinitas dan gaya hidup sehari-hari sebagai orangtua menciptakan interaksi dengan anak yang terasa “auto-pilot”. Mulai dari aktivitas menyusui, memandikan, mengganti popok, belanja, memasak, menyuapi makan, lalu bekerja, mencuci, menyetrika, dsb. Kita hanya melakukan rutinitas tanpa ada “soul” didalamnya.

Tetapi coba perhatikan misalnya saat kita berinteraksi menyusui anak dengan penuh kesadaran bahwa kita sedang mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia dan kesehatan lahir batin, pasti berbeda dengan yang hanya menyusui yg penting bayi minum, asi lancar, bayi tidak rewel.

Begitu pun ketika anak tidak juara kelas, jangan berlebihan berlebihan menghakimi  atau jika sebaliknya ketika anak juara kelas jangan juga berlebihan membanggakan. karena dalam hal ini anak akan merasa lebih aman karena ia tahu dan merasakan kepedulian dari orangtuanya, bukan hanya tuntutan semata.

 

Pada akhirnya hubungan orang tua dan anak akan harmonis, penuh kasih sayang dan saling percaya. Dan anak dapat berkembang sesuai fitrahnya Karena anak memiliki potensi yang melebihi dari bayangan orangtua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *