Peran orang tua hari ini menentukan hubungan anak dan orang tua kelak

Menjadi orang tua adalah salah satu anugerah terindah dalam kehidupan manusia. Ketika anugerah itu datang maka sempurnalah menjadi sebuah keluarga. Sebagai orang tua pastinya mengharapkan anak-anak kita tumbuh dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun terkadang apa yang terjadi justru malah sebaliknya.

Bekerja dari pagi hingga petang sejak anak masih tidur saat pagi buta hingga ia terlelap kembali diwaktu malam. Dan saat berkumpul di rumah duduk bersama, menonton bersama, melakukan kegiatan bersama namun tidak sedikitpun merasakan kebersamaan karena pikiran masih berada di tempat lain. Sehingga tidak terjadi jalinan kedekatan emosi antara orang tua dan anak.

Kedekatan emosi antara orang tua dan anak sangat penting terhadap penerimaan diri, harga diri dan percaya diri anak. Mempunya IQ tinggi tetapi tidak menghargai dirinya mampu, tidak sadar bahwa dirinya mampu maka anak akan kesulitan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dimasa mendatang.

Ketika dia tidak memiliki keyakinan bahwa dia bisa, maka akan timbul berbagai masalah dalam hidupnya. Ketika anak sedang menghadapi masalah, dia akan membutuhkan orang yang dapat dipercaya untuk mendapatkan suatu solusi untuk permasalahannya.

Jika orang tua dan anak tidak punya kedekatan emosi, anak tidak akan menceritakan masalahnya kepada orang tuanya. Bahkan bisa saja cenderung untuk merahasiakannya dan lebih memilih seseorang atau teman yang dianggap lebih dekat dan nyaman untuk berbagi keluh kesahnya. Bayangkan jika seseorang atau temannya tadi memberikan solusi yang kurang tepat untuknya, maka anak kita bisa saja salah langkah. Itulah akibat dari surutnya kepercayaan anak pada orang tua.

Dan saat mengetahui anaknya salah langkah apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan orang tua? Marah, emosi, menghardik dan mungkin lebih parahnya lagi jika sampai ada tindakan kekerasan fisik oleh orang tua. Hal ini malah akan semakin memperbesar rasa ketidak percayaan kepada orang tua. Anak akan merasa tidak menemukan perlindungan dan bimbingan yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak.

Apakah anak yang salah? Jelas bukan, ini dimulai dari kemauan orang tua yang ingin dimengerti oleh anak, orang tua yang ingin anaknya menjadi sesuai seperti harapannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, orang tua tidak pernah mau mengerti anak.

Semoga kita belum terlambat untuk menyadarinya. Saatnya kita sebagai orang tua mengubah cara untuk bersikap dan berkomunikasi dengan anak. Tidak ada kata terlambat untuk belajar bersikap positif dan berusaha menjadi “sahabat” untuk anak kita. Toh selamanya mereka adalah anak kita, dan selamanya juga kita adalah orang tuanya tanpa ada siapapun yang bisa memutuskan ikatan darah antara anak dengan orang tua.

Kita mulai dengan sering bercanda bersama anak, membicarakan hal-hal sederhana dalam keseharian di rumah, melakukan kegiatan bersama, dsb.  Lakukan dengan penuh sungguh-sungguh kita ingin merasakan kedekatan dengan anak, dan bersikap akrab. Kita menyayangi mereka itu pasti, tapi apakah mereka merasakan bahwa kita benar-benar menyayangi mereka?

Mulailah sejak anak kita sedini mungkin. Anak kita mungkin hanya mampu mengucapkan ba-ba, a-pa, pa-pa, his, ha tetapi anak kita bisa merasakan apakah kita benar-benar meluangkan waktu khusus untuknya tanpa memikirkan hal lain.

Buktinya apa jika anak kita bisa merasakannya?

Tunggu hingga anak kita dewasa. Ketika dia masih mempercayai kita untuk mendengarkan seluruh curhatannya, ketika mereka merasa nyaman dan betah berada di rumah berkumpul bersama keluarga, itu artinya kita berhasil menanamkan kepercayaan pada anak kita.

Setelah kita menjalin kedekatan dengan anak, selanjutnya kita bangun kredibilitas pada anak. Kredibilitas ini untuk membangun rasa hormat kepada orang tua. Seorang ibu membangun rasa hormat anak kepada ayahnya, begitu juga sebaliknya ayah menanamkan anak untuk menghormati ibu nya melebihi rasa hormat ke ayah. Jangan perlihatkan ketika ibu memarahi ayah didepan anak, begitu juga sebaliknya. Karena anak ahli dalam merekam dan meniru sejak dia kecil.

Yang tidak kalah penting tanamkanlah keyakinan kepada ajaran agama yang benar. Bukan hanya ibadah rutin solat, mengaji, mendengar dakwah. Tetapi bahwa seluruh aspek kehidupan ini diatur oleh aturan agama. Sejak kecil tanamkanlah rasa cinta kepada Allah. Ajarkan bedanya jika anak kita beribadah karena cintanya pada Allah maka ibadahnya, tindakannya semua demi memperoleh ridha Allah.

Jangan mengancam dan menyebarkan ketakutan pada anak saat mengajarkan agama. Karena anak kecil akan sangat sensitif jika kita tanamkan rasa takut bisa berubah jadi benci. Misalnya setiap anak tidak mau sholat, mengaji orang tua berkata “…. nanti Allah marah”, maka anak akan mulai berpikir dan merasa jika Allah suka marah.

Berbeda jika kita berkata “ayo nak, kita solat untuk bersyukur pada Allah, karena Allah memberikan kita rumah untuk berteduh dari hujan, makanan yang lezat, dll” anakpun akan berpikir Allah baik setiap hari. Semua ini proses yang harus kita tanamkan kepada anak sesegera mungkin.

Waktu yang berharga yang tak bisa terulang kembali. Mungkin kita sibuk mencari uang untuk anak-anak kita hidup lebih baik. Ketika kita sadar anak kita sudah tumbuh dewasa. Waktu untuk bercanda dengan anak sudah terlewat dan anak sudah sibuk dengan dunianya yang baru.

Dulu anak kita merengek meminta kita bercerita dengannya. Dengan alasan sibuk kita acuhkan rengekannya. Sekarang kita berharap anak kita menceritakan kesibukanya, kita ingin dia menceritakan apa yang membuatnya begitu bahagia, ingin tahu apa masalahnya.

Siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Berhasil atau tidaknya kita dalam mendidik dan membesarkan anak adalah sebuah pilihan bukan takdir yang harus kita terima.

Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *